all the things that make my mind itch to review..

Archive for December, 2011

Siapa yang Tak Kenal dengan Naruto??

Apa jadinya jika anda mempunyai jurus seribu bayangan?? (cari pacar yang banyak untuk masing-masing clon kali ya…hehehe 😆 )

(gambar: Naruto Uzumaki, karakter utama anime dan manga Naruto)
Naruto is in the house!!! Yupz, bahasan kita kali ini tak lain dan tak bukan tentang sebuah anime terlaris dengan jutaan penggemar di seluruh belahan dunia. Penggemar anime dan manga yang satu ini sangat bevariasi, mulai dari anak-anak sampai yang sudah tua (om-nya temenku yang usianya 45-an aja ikut nimbrung ngobrolin Naruto dengan kami… apa??). Kesuksesan komik Naruto tak lepas dari yang namanya Masashi Kishimoto, “kawan saya” yang telah menelurkan mega anime ini.

Pada mulanya Manga Naruto pertama kali diterbitkan di negeri Sakura di tahun 1999 dalam majalah Manga terkemuka Jepang, Shonen Jump  edisi ke 43. Di Indonesia sendiri, Manga Naruto diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Semenjak kemunculannya, Naruto telah mengalami puncak popularitas baik di negeri asalnya maupun di tanah air. Ceritanya yang panjang dari dulu sampai sekarang tetap saja semakin enak untuk diikuti. Dari sebuah situs ensiklopedi, dinyatakan bahwa panjang serial Naruto (khususnya di Jepang) telah menyaingi Dragon Ball karya Akira Toriyama (hemm… seperti dugaan saya 🙂 ) Sedangkan untuk serial anime-nya diproduksi oleh Studio Pierrot dan Aniplex yang disiarkan perdana di Jepang oleh jaringan TV Tokyo dan juga oleh jaringan televisi satelit khusus anime, Animax. Seri pertama terdiri atas sembilan seasons. Season pertama dari seri kedua mulai ditayangkan pada tanggal 15 Februari 2007. Nah, kalau Di Indonesia, kita dapat nonton anime Naruto yang semula ditayangkan oleh Global TV dan kemudian dipindah ke RCTI mulai 1 Februari 2011 (udah lewat kale!!)
Bagi kawan-kawan yang baru mengenal anime yang satu ini (apa? 🙄  emang ada yang nggak tahu sama Naruto?) ada baiknya kawan-kawan baca sekilas prolog-nya.

Diceritakan pada tiga belas tahun sebelum cerita ini dimulai, ada seekor monster rubah (yang dikenal dengan nama Kyuubi) ekor sembilan menyerang sebuah desa yang bernama Konoha. Desa ini merupakan tempat banyak shinobi (ninja) yang juga sebagai tempat kelahiran saya Naruto. Nah, si Kyuubi itu menyebabkan kehancuran di desa Konoha dan sehingga banyak korban yang berjatuhan (sereem 😦 ) Namun akhirnya ada seseorang shinobi hebat yang berhasil menyegel Kyuubi itu ke tubuh Naruto. Sang jawara yang berhasil menyegel siluman rubah ekor itu adalah Namikaze Minato, Hokage keempat yang tidak lain adalah ayah dari Naruto. Sayangnya, keberhasilan itu harus dibayar dengan nyawanya sendiri (saya juga akan melakukan hal yang sama jika di posisi itu, maksudnya?? 👿 )

Setelah peristiwa mencekam itu, tepatnya setelah tiga belas tahun kemudian, si Naruto Uzumaki udah besar dan (more…)

Advertisements

When You Believe (Kekuatan Vokal + “Meaningful” Lirik)

“Lagu yang oke punya” setujukah kalian? (info: tiada pemaksaan dari penulis 😀 )

One of my fav song…. hahaha 😉
Bicara soal musik, tentu banyak dari kawan-kawan semua yang memiliki favoritnya masing-masing. Termasuk saya, favorit saya se-abreg. Seperti halnya film yang punya genre (pasti tau kan genre favorit ane? Lihat posting-an sebelumnya) musik juga memiliki genre yang bermacam-macam. Mulai dari pop, rock, jazz, reggae, country, dan lain sebagainya. Bahkan dari satu jenis musik masih dibedakan lagi, misalnya musik rock dibagi lagi jadi hard rock, pop rock, semi hard rock, dan lain-lain.

Loh..loh…kenapa jadi bahas aliran musik ya? Apakah saya amnesia? (amnesia kalo saya cakep :mrgreen: ) well, sorry kawan kalau saya agak kurang waras fokus pada tema postingan kali ini. Walaupun begitu, gak ada salahnya kan kita menyimak sebentar pendahuluan mengenai musik (membela diri)

Jika kalian pernah nonton film The Prince of Egypt, pasti agan-agan tak asing dengan salah satu Soundtrack-nya, When You Believe, yang artinya “saat kau yakin” (kereen 🙂 ). Dinyanyikan oleh Mariah Carey dan Whitney Houston semakin menambah kesempurnaan lagu ini. Written and Composed by Stephen Schwartz di tahun 1998, lagu ini berhasil menyabet banyak piala, salah satunya Academy Award. Lagu bertipe ballad ini melukiskan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk mewujudkan harapan sekalipun itu adalah sebuah keajaiban (miracle) dan hal itu bisa diraih ketika kita yakin dan percaya kita bisa meraihnya. (cocuiiit 😳 )

Komposisi vokal dalam lagu ini dikategorikan (more…)


Final Destination 5, Lagi?

Sebagai penyuka film-film ber-genre horror, thriller, slasher sangat “wajib” hukumnya untuk nonton film yang satu ini. Alasan pertama yang membuat saya pengen nonton film ini tak lain dan tak bukan karena ceritanya yang cukup thrilling. Bermula ketika pertama kali nonton seri perdananya. Mantaap kali kawan, cerita yang superb menurut saya.  Saya membayangkan jika saya punya penglihatan masa depan dimana saya tahu kapan dan bagaimana saya akan mati, terus saya bisa menghindari peristiwa itu agar tidak mati. Fiuh…bukan main! Takdir tak akan membiarkan kita membelot dari nasib yang telah digariskannya. Ia tidak akan membiarkan kita ketawa lepas setelah menghindari kematian, karena takdir akan terus mengejar nyawa kita. Nampaknya itulah yang ingin diusung oleh James Wong untuk ditampilkan dalam bentuk film. Wow…
Kembali ke film… Berangkat dari rumah rekomendasi teman, kicauan di twitter, status di facebook, dan bombardir trailer-nya di youtube, saya berkata, I got it!! Sequel yang sangat saya tunggu-tunggu. Well, saya pun nonton film itu. Berharap dapat mengobati kekecewaan yang saya dapat dari sequel sebelumnya, ke-4.

Pada dasarnya, alur ceritanya tidak jauh berbeda dengan sequel-sequel sebelumnya. Yaitu dimana ada seseorang yang diberi kemampuan untuk melihat masa depan (tentang kematian) yang berusaha menghindari peristiwa-peristiwa yang dapat membunuhnya. Cerita itu sebenarnya sedikit gampang ditebak. Umumnya alur cerita berkutat tentang future vision, urutan kematiannya pun sesuai firasat yang diperoleh oleh pemeran utama. Beda ceritanya saat nonton sequel ketiga atau yang pertama. Urutan kematian tak langsung bisa tertebak, tetapi kita disuruh berpikir dulu.

Sam Lawton, seorang pemuda yang menjadi pemeran utama diramalkan akan mati dalam sebuah kecelakaan akibat kolaps-nya jembatan gantung sedang yang mereka seberangi. Awalnya, mereka sedang menaiki bus interline city, RollandCoach Lines dalam acara retreat menuju Vancouver-British Island. Jembatan yang sedang dalam perbaikan itu tiba-tiba retak dan akhirnya hancur. Bersama rekan-rekannya, satu per satu dari mereka mati. Dan berkat penglihatan itu, Sam membawa rekan-rekannya untuk menghindari kecelakaan di jembatan gantung Lions Gate. Namun, rupanya takdir tak akan membiarkan  mereka hidup aman. Kematian datang menemui mereka satu per satu.
Candice – mati setelah mengalami pendaratan yang buruk saat lompat gymnastik (olahraga paan se nih) karena bubuk putih (atau tepung sih) membuyarkan konsentrasinya.
Ishak –  kepalanya hancur ketimpa patung budha di tempat pijat. (more…)


Art in Art??

Tahukah kalian makna judul tersebut? (penulis juga baru tahu kemaren). Art in art atau dalam bahasa Indonesianya adalah seni dalam seni. Yaitu sebuah karya seni yang menampilkan sebuah keteraturan yang berasal dari beberapa karya seni lain yang tersusun sesuai irama warna (definisi pribadi 😉 ).

Jika kawan-kawan pernah memperhatikan sebuah iklan rokok di layar kaca, kalian pasti melihat sebuah gambar yang terbentuk dari gambar-gambar yang lebih kecil dan ersusun rapi sesuai dengan kontur warna. Keren banget kan? Pasti yang muncul di benak kalian ketika melihat seni foto itu adalah pertanyaan, “seberapa banyak foto yang dibutuhkan untuk membuat sebuah siluet gambar?” atau “gimana yah cara menentukan warna-warna setiap foto dan penyusunannya agar terbentuk sebuah keteraturan?” (jangan tanya kepada saya, karena saya pun termasuk orang-orang yang bertanya demikian 😀 ).

Adalah Maxim Ksuta, seorang penulis sejarah sekaligus pelukis asal Rusia. Ia membuat sebuah karya seni yang mengagumkan. Ksuta membuat potret wajah dari teman-temannya menggunakan ratusan gambar kecil. Ksuta mengumpulkan karya seni dari zaman kuno sampai ke masa modern seperti lukisan, foto, patung sampai motif arsitektur. Kemudian ia menyusunnya dan menghasilkan potret wajah dari teman-temannya. Karya seni inilah yang kemudian ia namakan Art in Art (em…jadi begitu ceritanya?). Ksuta menghadirkan karya seni baru tersebut karena dia yakin bahwa bentuk seni di era modern saat ini memang sudah tidak ada batasannya lagi. Setiap saat ada saja karya seni baru yang hadir.

Ini dia salah satu karyanya…


Belajar Ngedit Foto Memakai Photoshop

Mengisi waktu senggang bisa dilakukan dalam berbagai macam cara. Mulai dari jalan-jalan, nonton film, wisata kuliner, belajar (hebat!), nongkrong, males-malesan, atau malah molor, semuanya bisa dilakukan dan itu terserah anda mau pilih yang mana. Saya? Karena “males” males-malesan terus akhirnya cari kesibukan sendiri. Otak-atik laptop ketemu Adobe Photoshop, sebuah software yang jarang saya buka akibat rutinitas kuliah yang mendominasi waktu saya. Okey, dengan alasan tersiksa karena gak ada yang bisa dilakukan, saya buka tuh sotoshop Photoshop.

Eh, jangan salah dulu. Saya bukan mau ngasih tutorial buat ngotak-atik foto kepada agan-agan sekalian. Hehe…. 😉

Sebagai pengedit amatir, saya cukup memainkan menu-menu yang mempunyai efek langsung terhadap tampilan foto yang mau di-edit. Terang saja, langsung main menu filter. Masing-masing sub menu nya saya coba satu per satu. Tak berhenti sampai di situ, saya juga main manipulasi warna, transparansi, tekstur, dan lain-lain (yang masih dasar).

Dan hasilnya, saya terkagum-kagum dengan hasil karya saya sendiri (menangis bahagia). Rasanya perlu untuk memberikan hak cipta untuk karya (yang menurut saya) terbaik ini. Hahaha.. Kawan-kawan penasaran dengan karya maestro saya? Bisa didownload dilihat di bawah ini…

(info: kami menyediakan kotak amal saran dan kritik dari kawan semua yang terganggu tertarik melihat-lihat galeri photoshop saya) (more…)