all the things that make my mind itch to review..

Posts tagged “waktu senggang

PR Yang Hampir Kelupaan

“nak, kalo kamu diberi tugas sama guru atau dosenmu janganlah mengeluh, cepat kerjakan. Karena itu adalah amanah yang harus diselesaikan”

Kurang lebih begitulah nasehat dari guru SMP saya mengenai tugas, PR, ulangan, dan sebagainya. Nah masalahnya kalau yang ngasih tugas bukan dari guru atau dosen apa masih perlu dikerjakan? Jawabnya: tetep harus dikerjakan!!! Selama tugas itu bermanfaat, tidak memberatkan (bukan menggendutkan), dan kita punya waktu Why Not????

Baiklah, tanpa ba bi bu lagi, mari kita kerjakan tugas kita. Oke, pertama, apa yang kita punya disini? (gula, garam, bawang, kol, dll) Eh, saya baru ingat kalo dulu saya pernah dikasih PR sama Mas Ahmad Alkadri. Perasaan saya tuh bangga banget lho dapet PR darinya, saya sempat ngerasa kalo saya sedang ditanya-tanya di acara Just Alvin, suer dah. Banyak pertanyaan yang kayaknya perlu saya jawab agar dia gak penasaran terus sama saya (hey, siapa gue??). Ada sebelas pertanyaan yang harus saya jawab sebelum diperiksa aparat (loh??) Tapi sebelum saya menjawabnya, saya mau minta maaf dulu sama Mas Alkadri. Saya yakin si masnya pasti ngomel “eh, ni orang dikasih tugas kok gak dikerjakan?  Nglunjak banget ni orang, golok mana golok??”  ngeri banget. Tapi ngeliat ava-nya di berbagai kolom komentar di blognya temen-temen blogger kayaknya wajahnya gak seperti yang diomongin orang (eh, bukannya elu ya yang ngomongin??).. Jujur sih, saya emang lagi sibuk-sibuknya, hingga PR ini yang udah lama ditugaskan jadi gak sempat saya kerjakan. Sekedar info, saking banyaknya kesibukan saya mulai dari pemotretan, syuting iklan, ngelatih lumba-lumba joget, hingga mandiin kebo kakek. Jadi please ngertiin saya (terserah lah!)

(gambar: tuh, kalau udah dapat PR kurang lebih kayak gitu)

Ya sudah, langsung aja saya jawab pertanyaan-pertanyaan mas Alkadri.

  • Ayah dan Ibumu jadian pas umur berapa?

Jawab: (more…)

Advertisements

Pokemon, Kompleksitas di Balik Wajah Imut Mereka

Sebelumnya, Gong Xi Fa Chai… 😆 saya masih bersedia lho menampung Angpau dari temen-temen blogger :mrgreen:

Lagi-lagi telat posting, yah apa mau dikata, kalau orang sudah menemukan hobi baru yang sangat sangat disukainya tak jarang hobi lama jadi bergeser dari puncak prioritasnya. Mungkin itulah yang terjadi pada saya saat ini, hehe 😆 Hobi baru saya adalah main game Pokemon White Version. Pasti kalian yang belum pernah dengar pada nyengir mendengar kata Pokemon yang identik dengan tontonan anak-anak (sesuai pandangan kebanyakan orang). Nah, untuk mengubah stigma itu, mungkin saya bisa sedikit menggambarkan tentang salah satu dari sekian banyak animanga favorit saya ini.

Pertama saya mengenal anime ini kira-kira pada waktu saya masih SD, yang saya ingat waktu itu serial ini pertama kali ditayangkan oleh SCTV sekitar pukul 19.00 WIB (widih, ingat betul ni orang) 😐 Dari situ saya mulai mengenal Ali (nama Indonesia-nya Ash atau Satoshi), Pikachu, dkk. Satu hal yang membuat saya suka dengan anime ini adalah adventure-nya dan berbagai macam Pokemon yang sangat berbeda dengan binatang pada umumnya. Perbedaan itu antara lain, kemampuan mereka untuk bertarung dan mengeluarkan jurus-jurus keren, kemampuan mereka untuk berevolusi, sebagai best partner manusia, tantangan di tiap kota (Gym, Contest, Elite Four, Champion, trainer battle, dll), kelucuan tim antagonis yang aneh dan foolish (Team Rocket), dan Pokemon Legenda. Kesemuanya itu nampaknya telah memenuhi semua prasyarat untuk saya mau menonton dan give interest kepada mereka 🙂

(gambar: inilah tokoh utama serial ini, Satoshi dan Pokemon andalannya, Pikachu)

Sedikit gambaran mengenai Pokemon, kata Pokemon berasal dari romanisasi nama Jepang untuk Pocket Monster, menjadi Poketto Monsuta. Pokemon ini diilustrasikan sebagai makhluk hidup yang menyerupai binatang (more…)


Final Destination 5, Lagi?

Sebagai penyuka film-film ber-genre horror, thriller, slasher sangat “wajib” hukumnya untuk nonton film yang satu ini. Alasan pertama yang membuat saya pengen nonton film ini tak lain dan tak bukan karena ceritanya yang cukup thrilling. Bermula ketika pertama kali nonton seri perdananya. Mantaap kali kawan, cerita yang superb menurut saya.  Saya membayangkan jika saya punya penglihatan masa depan dimana saya tahu kapan dan bagaimana saya akan mati, terus saya bisa menghindari peristiwa itu agar tidak mati. Fiuh…bukan main! Takdir tak akan membiarkan kita membelot dari nasib yang telah digariskannya. Ia tidak akan membiarkan kita ketawa lepas setelah menghindari kematian, karena takdir akan terus mengejar nyawa kita. Nampaknya itulah yang ingin diusung oleh James Wong untuk ditampilkan dalam bentuk film. Wow…
Kembali ke film… Berangkat dari rumah rekomendasi teman, kicauan di twitter, status di facebook, dan bombardir trailer-nya di youtube, saya berkata, I got it!! Sequel yang sangat saya tunggu-tunggu. Well, saya pun nonton film itu. Berharap dapat mengobati kekecewaan yang saya dapat dari sequel sebelumnya, ke-4.

Pada dasarnya, alur ceritanya tidak jauh berbeda dengan sequel-sequel sebelumnya. Yaitu dimana ada seseorang yang diberi kemampuan untuk melihat masa depan (tentang kematian) yang berusaha menghindari peristiwa-peristiwa yang dapat membunuhnya. Cerita itu sebenarnya sedikit gampang ditebak. Umumnya alur cerita berkutat tentang future vision, urutan kematiannya pun sesuai firasat yang diperoleh oleh pemeran utama. Beda ceritanya saat nonton sequel ketiga atau yang pertama. Urutan kematian tak langsung bisa tertebak, tetapi kita disuruh berpikir dulu.

Sam Lawton, seorang pemuda yang menjadi pemeran utama diramalkan akan mati dalam sebuah kecelakaan akibat kolaps-nya jembatan gantung sedang yang mereka seberangi. Awalnya, mereka sedang menaiki bus interline city, RollandCoach Lines dalam acara retreat menuju Vancouver-British Island. Jembatan yang sedang dalam perbaikan itu tiba-tiba retak dan akhirnya hancur. Bersama rekan-rekannya, satu per satu dari mereka mati. Dan berkat penglihatan itu, Sam membawa rekan-rekannya untuk menghindari kecelakaan di jembatan gantung Lions Gate. Namun, rupanya takdir tak akan membiarkan  mereka hidup aman. Kematian datang menemui mereka satu per satu.
Candice – mati setelah mengalami pendaratan yang buruk saat lompat gymnastik (olahraga paan se nih) karena bubuk putih (atau tepung sih) membuyarkan konsentrasinya.
Ishak –  kepalanya hancur ketimpa patung budha di tempat pijat. (more…)


Art in Art??

Tahukah kalian makna judul tersebut? (penulis juga baru tahu kemaren). Art in art atau dalam bahasa Indonesianya adalah seni dalam seni. Yaitu sebuah karya seni yang menampilkan sebuah keteraturan yang berasal dari beberapa karya seni lain yang tersusun sesuai irama warna (definisi pribadi 😉 ).

Jika kawan-kawan pernah memperhatikan sebuah iklan rokok di layar kaca, kalian pasti melihat sebuah gambar yang terbentuk dari gambar-gambar yang lebih kecil dan ersusun rapi sesuai dengan kontur warna. Keren banget kan? Pasti yang muncul di benak kalian ketika melihat seni foto itu adalah pertanyaan, “seberapa banyak foto yang dibutuhkan untuk membuat sebuah siluet gambar?” atau “gimana yah cara menentukan warna-warna setiap foto dan penyusunannya agar terbentuk sebuah keteraturan?” (jangan tanya kepada saya, karena saya pun termasuk orang-orang yang bertanya demikian 😀 ).

Adalah Maxim Ksuta, seorang penulis sejarah sekaligus pelukis asal Rusia. Ia membuat sebuah karya seni yang mengagumkan. Ksuta membuat potret wajah dari teman-temannya menggunakan ratusan gambar kecil. Ksuta mengumpulkan karya seni dari zaman kuno sampai ke masa modern seperti lukisan, foto, patung sampai motif arsitektur. Kemudian ia menyusunnya dan menghasilkan potret wajah dari teman-temannya. Karya seni inilah yang kemudian ia namakan Art in Art (em…jadi begitu ceritanya?). Ksuta menghadirkan karya seni baru tersebut karena dia yakin bahwa bentuk seni di era modern saat ini memang sudah tidak ada batasannya lagi. Setiap saat ada saja karya seni baru yang hadir.

Ini dia salah satu karyanya…


Belajar Ngedit Foto Memakai Photoshop

Mengisi waktu senggang bisa dilakukan dalam berbagai macam cara. Mulai dari jalan-jalan, nonton film, wisata kuliner, belajar (hebat!), nongkrong, males-malesan, atau malah molor, semuanya bisa dilakukan dan itu terserah anda mau pilih yang mana. Saya? Karena “males” males-malesan terus akhirnya cari kesibukan sendiri. Otak-atik laptop ketemu Adobe Photoshop, sebuah software yang jarang saya buka akibat rutinitas kuliah yang mendominasi waktu saya. Okey, dengan alasan tersiksa karena gak ada yang bisa dilakukan, saya buka tuh sotoshop Photoshop.

Eh, jangan salah dulu. Saya bukan mau ngasih tutorial buat ngotak-atik foto kepada agan-agan sekalian. Hehe…. 😉

Sebagai pengedit amatir, saya cukup memainkan menu-menu yang mempunyai efek langsung terhadap tampilan foto yang mau di-edit. Terang saja, langsung main menu filter. Masing-masing sub menu nya saya coba satu per satu. Tak berhenti sampai di situ, saya juga main manipulasi warna, transparansi, tekstur, dan lain-lain (yang masih dasar).

Dan hasilnya, saya terkagum-kagum dengan hasil karya saya sendiri (menangis bahagia). Rasanya perlu untuk memberikan hak cipta untuk karya (yang menurut saya) terbaik ini. Hahaha.. Kawan-kawan penasaran dengan karya maestro saya? Bisa didownload dilihat di bawah ini…

(info: kami menyediakan kotak amal saran dan kritik dari kawan semua yang terganggu tertarik melihat-lihat galeri photoshop saya) (more…)